Pernahkan
anda bersyukur, bahwa anda sebenarnya telah hidup dengan
penuh keberuntungan. Bahwa matahari telah menyegarkan kita setiap hari,
menikmati teh hangat dipagi
hari sambil menyaksikan siaran berita di televisi. Bahwa anda bisa
bekerja dan bergurau bersama teman dengan nikmat, berkumpul dengan
orang-orang shaleh di setiap pekannya..?
Ada orang yang sepanjang hari isinya mengeluh, tidak puas akan
kehidupannya, selalu komplain terhadap semua hal, dan selalu
membayangkan akan betapa bahagianya kalau bisa mendapatkan sesuatu..
Mengapa hari begitu panas...
kalau saja saya bisa seperti dia...
kapan bisa punya rumah yang besar...
filmnya jelek banget...
Aku akan menjadi bahagia nanti kalau sudah jadi manager...
akan pergi bersenang senang kalau sudah punya uang banyak dan bisa ke luar negeri...
akan menikmati makan enak kalau punya uang lebih….
Mengapa hari begitu panas...
kalau saja saya bisa seperti dia...
kapan bisa punya rumah yang besar...
filmnya jelek banget...
Aku akan menjadi bahagia nanti kalau sudah jadi manager...
akan pergi bersenang senang kalau sudah punya uang banyak dan bisa ke luar negeri...
akan menikmati makan enak kalau punya uang lebih….
Sebenarnya kwalitas kebahagian seseorang dapat kita lihat dari apa
yang diucapkannya pada kehidupan sehari hari. Apakah dia optimistik,
menikmati apa yang dijalankannya, berbahagia, ataukah penuh kritik dan
keluhan, ketidakpuasan, dan kedengkian?
Kadang ada hal yang bisa mengingatkan kita akan kehidupan ini.
Seorang manager mendadak sadar akan arti kehidupannya ketika dia akan di
operasi jantungnya. Seorang teman mendadak menguruskan badannya dan
menyehatkan dirinya ketika dia menyadari kedua teman baiknya
meninggal dunia karena kesehatan yang jelek.
Kehidupan ini penuh dengan keajaiban, dan kita adalah bagian dari
keajaiban dunia ini. Rasa syukur kita sering hilang dan terbenam pada
kehidupan sehari hari kita yang sering menyebalkan. Kehidupan kita
menyebalkan, mungkin karena kita melihatnya sebagai sesuatu yang
menyebalkan. Kita toh bisa merubahnya dan membuat kehidupan kita menjadi
lebih menyenangkan dan menyegarkan. Bukan dengan bekerja 24 jam sehari,
tetapi dengan menyadari bahwa rasa syukur kita dapat membuat kita lebih
bahagia.
Sikap berterimakasih dan bersyukur akan kehidupan ini terhadap hal
hal kecil yang terjadi pada diri kita akan membuat kita lebih sadar akan
kehidupan ini dan membuat kita merasakan “kekayaan” yang kita miliki.
Kita bisa merubah kehidupan kita dan mulai bersyukur tentang apa yang
terjadi dalam kehidupan kita. Kadang kita melewati kesedihan,
kesulitan dan beban berat, tetapi kita mesti dapat tetap bersyukur akan
kehidupan kita yang sudah sangat bagus ini dibandingkan dengan kesedihan
dan kesengsaraan yang di alami oleh orang lain yang jauh lebih berat daripada kita.
“Ahli syukur yang sejati adalah ketika ia memperoleh harta, pangkat, kedudukan, ataupun gelar, ia hanya berpikir bahwa semuanya adalah karunia Allah yang diberikan agar ia lebih dekat kepada-Nya. Dan, ia menggunakan karunia itu dengan benar agar berbuah berkah di jalan Allah. Inilah tipe ahli syukur.” KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)
“Ahli syukur yang sejati adalah ketika ia memperoleh harta, pangkat, kedudukan, ataupun gelar, ia hanya berpikir bahwa semuanya adalah karunia Allah yang diberikan agar ia lebih dekat kepada-Nya. Dan, ia menggunakan karunia itu dengan benar agar berbuah berkah di jalan Allah. Inilah tipe ahli syukur.” KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)
*Pengertian Syukur
Syukur (asy-syukr = ucapan, perbuatan, dan sikap terima kasih atau
al-hamd = pujian). Dalam ilmu tasawuf : ucapan, sikap dan perbuatan
terima kasih kepada Allah SWT dan pengakuan yang tulus atas nikmat dan
karunia yang diberikan-Nya.
*Perintah Mensyukuri Nikmat Allah
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni’mat)-Ku.“ (QS. 2:152)
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.“ (QS. 2:172)
dalam ayat lain --> (QS. 29:17) (QS. 3:123) (QS. 31:14) (QS. 34:15)
*Allah Memberi Balasan Kepada Orang yang Bersyukur
“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.“ (QS. 4:147)
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya
azab-Ku sangat pedih.” (QS. 14:7)
dalam ayat lain --> (QS. 3:144) (QS. 3:145) (QS.31:12) (QS. 39:7) (QS.54:35)
*Kebanyakan Manusia Tidak Bersyukur
“Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” (QS.23:78)
“Dan
sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang
diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak
mensyukuri(nya).” (QS.27:73)
dalam ayat lain --> (QS. 2:243) (QS. 7:17) (QS.32:9) (QS. 34:13) (QS. 40:61) (QS. 67:23)
*Allah Mengetahui Siapa yang Bersyukur
“Dan
demikianlah telah Kami uji sebahagian
mereka (orang-orang kaya)
dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang
kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang
diberi anugerah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah
lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?” (QS.6:53)
*Hadits dan Wasiat Ulama Akhlak Tentang Syukur
"Dua hal apabila dimiliki oleh seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama (ilmu dan ibadah) dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan.” (HR. Tirmidzi)
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal
ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila
mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan
kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadist shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).
“Siapa yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan, maka berarti
berusaha untuk hilangnya nikmat itu. Dan siapa yang bersyukur atas
nikmat berarti telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat.”
(Syeikh Ibnu Athaillah ra.)
“Jika memang ada suatu cara yang dapat ditiru dalam pengabdian
(ibadah) kepada Allah bagi hamba-Nya, yang paling taat, yang lebih baik
daripada bersyukur di setiap kesempatan, maka Allah akan menganggap cara
pengabdian itu melebihi segala ciptaan yang lain. Karena
sesungguhnya, tidak ada bentuk pengabdian yang lebih baik dari pada
bersyukur di setiap kesempatan, Dia telah memilihnya menjadi bentuk
pengabdian terunggul daripada bentuk-bentuk pengabdian yang
lainnya." (Imam Ja’far Ash-shadiq ra.)
Syukur itu diwujudkan dalam tiga aspek :
(1)
bersyukur dengan hati, yaitu mengakui dan menyadari sepenuhnya bahwa
segala nikmat yang diperolehi berasal dari Allah SWT dan tiada seseorang
pun selain Allah SWT yang dapat memberikan nikmat itu;
(2) bersyukur
dengan lidah, yaitu mengucapkan secara jelas ungkapan rasa syukur itu
dengan kalimah al-hamd li Allah (segala puji bagi Allah); dan
(3)
bersyukur dengan amal perbuatan, yaitu mengamalkan anggota tubuh untuk
hal-hal yang baik dan memanfaatkan nikmat itu sesuai dengan ajaran
agama.Yang dimaksud dengan mengamalkan anggota tubuh ialah menggunakan
anggota tubuh itu untuk melakukan hal-hal yang positif dan diridai Allah
SWT, sebagai perwujudan dari rasa syukur tersebut.
Hakikat syukur adalah “menampakkan nikmat,” dan hakikat kekufuran
adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara lain berarti
menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh
pemberinya, juga menyebut-nyebut nikmat dan pemberinya dengan lidah.
"Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya." (QS. Adh-Dhuha:11).
Nabi Muhammad Saw pun bersabda: “Allah senang melihat bekas (bukti)
nikmat-Nya dalam penampilan hamba-Nya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)”.
Sementara ulama ketika menafsirkan firman Allah,
“Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS. Al-Baqarah:152)
“Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS. Al-Baqarah:152)
Menjelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah untuk mengingat Allah
tanpa melupakannya, patuh kepada-Nya tanpa menodainya dengan
kedurhakaan. Syukur orang demikian lahir dari keikhlasan kepada-Nya, dan
karena itu, ketika setan menyatakan bahwa, “Demi kemuliaan-Mu, Aku akan
menyesatkan mereka (manusia) semuanya” (QS Shad:82), dilanjutkan
dengan pernyataan pengecualian, yaitu, “kecuali hamba-hamba-Mu yang
mukhlash di antara mereka” (QS Shad [38]: 83). Dalam QS Al-A’raf (7): 17
Iblis menyatakan, “Dan Engkau tidak akan menemukan kebanyakan dari
mereka {manusia) bersyukur.” Kalimat “tidak akan menemukan” di sini
serupa maknanya dengan pengecualian di atas, sehingga itu berarti bahwa
orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang mukhlish (tulus
hatinya).
*Syukurnya Rasulullah Saw
“Rasulullah berdiri (shalat) sampai bengkak kedua kakinya. Kepadanya
ditanyakan: “Mengapa Anda membebani diri dengan hal yang
demikian?Bukankah Allah swt. Telah mengampuni Anda dari segala dosa
Anda, baik yang terdahulu maupun yang akan datang?” Rasulullah saw.
Bersabda : “Tidak patutkah saya menjadi hamba Allah yang
bersyukur?” (Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, juga oleh Basyar bin
Mu’adz, dari Abu `Awanah,dari Ziyad bin `Alaqah, yang bersumber dari al
Mughirah bin Syu’bah r.a.)
*Syukurnya Nabi Sulaiman As
Dalam AlQur’an (surat AnNaml) mengisahkan Nabi Sulaiman yang sedang
merapikan barisan tentaranya , baik dari jin, manusia, maupun burung.
Dan ketika mereka sampai dilembah semut, seekor semut berkata:” Masuklah
kalian agar kalian tidak terinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya,
sedang mereka tidak mengetahuinya”
“maka dia (Sulaiman as) tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo’a: “Ya
Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu yang telah
Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk
mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan
rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS. 27:19)
*Syukurnya Nabi Musa As
Dari Abi Umar as-Syaibani berkata: “Nabi Musa alaihissalam telah berdoa semasa berada di Thuur, Sinai: “Wahai
Tuhan, sesungguhnya aku telah menunaikan solat menuju keridhaan-Mu, aku
telah bersedekah menuju keridhaan-Mu, aku telah menyampaikan risalah
agama menuju keridhaan-Mu. Maka adakah aku telah mensyukuri-Mu?” Lalu Allah berfirman: “Wahai Musa, sekarang engkau telah mensyukuri-Ku”.
Nabi Musa alaihissalam telah berkata: “Bagaimana aku mensyukuri-Mu? Semua amalan-ku yang kulakukan
sebaik-baiknya pun tak sebanding dengan nikmat-Mu yang paling kecil”. Lalu Allah telah berfirman kepadanya: “Wahai Musa engkau sekarang telah mensyukuri-Ku”.
Telah diriwayatkan bahawa Nabi Musa Alaihis Salam pernah bertanya kepada Tuhannya: “Ya Robb, bagaimana caranya saya bersyukur kepada Engkau? Robbnya menjawab: “Ingatlah
Aku, dan janganlah kamu lupakan Aku. Jika kamu mengingat Aku niscaya
kamu telah bersyukur kepadaKu. Namun, jika kamu melupakan Aku, kamu
telah mengingkari nikmatKu”.
Dari ketiga riwayat diatas, dapat ditarik 3 hal tentang cara syukur Nabi Musa alaihissalam yang diajarkan Allah, yaitu :
1. Shalat, sedekah, dan berdakwah dengan niat untuk keridhaan-Nya.
2. Membaguskan amal shalih, dan mengagungkan nikmat-Nya.
3. Senantiasa mengingat Sang Pemberi Nikmat (Allah).
1. Shalat, sedekah, dan berdakwah dengan niat untuk keridhaan-Nya.
2. Membaguskan amal shalih, dan mengagungkan nikmat-Nya.
3. Senantiasa mengingat Sang Pemberi Nikmat (Allah).
“Hakikat syukur melalui pengiktirafan
(pengakuan) nikmat kepada pemberi nikmat ialah tidak menggunakan
(nikmat) pada perkara yang bukan ketaatan”. (Al-Qurtubi)